Polres Biak Tangani Penipuan Berbasis Arisan Online

0
11

Biak – Sedikitnya ada 22 orang yang menjadi korban atas kasus penipuan investasi, bermodus arisan online di Biak, dengan kerugian Rp. 1,3 miliar lebih.

Hal itu disampaikan Kapolres Biak Numfor AKBP Andi Yoseph Enoch, SIK yang didampingi Kasat Reskrim Iptu Oscar F. Rahadian, SIK., MH dan jajaran dalam pelaksanaan Press Realase, Selasa (24/11/2020) di lobby Mapolres Biak.

“Kasus ini, berkaitan dengan menghimpun dana dari masyarakat atau arisan on line. Pelapornya yaitu Ibu Maria Baba. Kemudian tersangkanya inisial TA (25). Korban yang sudah diperiksa oleh Reskrim kurang lebih ada 22 orang, taksiran kerugian mencapai Rp. 1, 379.150.000,” terangnya.

Awalnya TA (terlapor) membentuk arisan online di whatsapp dengan nama “Group Arisan” dan “Group Arisan Khusus” kemudian menjalankan arisan online dengan sistem arisan duet (tanam modal). Dimana ada member yang bersedia sebagai penginvestasi modal TA (terlapor) membuat group whatsapp baru yang anggotanya hanya terdiri dari di dirinya (TA), penginvest dan peminjam untuk berkomunikasi sehingga tidak menimbulkan kecurigaan.

Awalnya berjalan lancar dimana penginvest mendapatkan keuntungan berupa modal uang pokok dan bunganya, admin yang dibebankan pada Penginvest dan peminjam.

Pada September 2020 para pengimvest mengeluh uang mereka sudah jatuh tempo pengembaliannya namun belum dikembalikan oleh peminjam melalui admin. Dan ketika dikonfirmasi kepada admin (TA) selalu mengatakan belum dikembalikan oleh peminjam.

Kapolres menjelaskan ada 22 orang yang sudah diperiksa sebagai korban dari arisan online tersebut namun, kemungkinan korban yang belum melaporkan masih banyak.

Umumnya, para korban berprofesi sebagai ibu rumah tangga dan pengusaha. Dan juga para korbannya berdomisili di Biak dan bahkan sebagian ada di luar Biak.

“Setorannya variatif. Ada yang menyetor puluhan juta sampai ratusan juta bahkan ada yang menyetor kurang lebih 500 juta, dan para korban menyetorkan dananya secara bertahap. Semisal penyetoran pertama 10 juta, TA akan mengembalikan 15 juta bersama bunganya. Namun pada pembayaran yang berikutnya mulai macet,” terang Kapolres.

Barang bukti yang telah disita terdapat sebuah handpone merek Ipone, 3 rekening bank atas nama TA, buku catatan milik terlapor, rekening koran dari para korban dan gambar cepture hasil percakapan TA dan para korban di whatsapp.

“Kasus ini tidak lama, tanggal 6 September itu, dia (TA) baru membuka arisan online ini. Jadi hanya dalam jangka waktu 1 bulan, si TA ini sudah menghimpun Rp. 1,3 miliar,” tutur AKBP Andi Yoseph Enoch.

“Pasal yang sementara kita sangkakan yaitu, Pasal 46 UU Nomor 10 tahun 1998 perubahan atas UU Nomor 7 tahun 1992 tentang Perbankan. Diancam pidana minimal 5 tahun dan maksimal 15 tahun penjara dan denda Rp. 1 miliar,” kata Kapolres.

“Sementara terlapor masih menunggu hasil swabnya jika sudah ada akan ditindak lanjuti kemudian,” tutupnya.

Pada kesempatan itu, Kapolres menghimbau kepada masyarakat untuk tidak secara mudah tergiur dengan bisnis serupa dengan iming – iming mendapatkan bunga atau keuntungan yang besar.

Untuk diketahui saat ini Sat Reskrim Polres Biak Numfor juga sudah menginventarisir ada 5 orang yang melakukan praktek serupa (arisan online) yang menghimpun dana dari masyarakat melalui sosial media. Dan Kapolres dan jajarannya akan melakukan proses yang sama kepada ke-5 orang tersebut.

sumber : www.tribratanewspapua.id/

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here